Selasa, 16 September 2014

Kampung Naga

Sabtu,  13 September 2014

Plang di depan tempat para pramuwisata di Kampung Naga
Setelah kurang lebih 4 jam menikmati keindahan Curug Orok, saya kembali melanjutkan perjalanan menuju Tasikmalaya, Jawa Barat, kali ini tujuan saya adalah Kampung Naga. Sebuah perkampungan yang menurut kabar dari orang-orang merupakan kampung adat di daerah Priangan Timur yang masih bertahan sampai saat ini.

Pelataran parkir menuju Kampung Naga
Perjalanan dari Garut menuju lokasi Kampung Naga kira-kira memakan waktu 1 jam 30 menit menggunakan motor. Gini-gini saya bisa naik motor ngebut walaupun cuma dibonceng hehehe. Ketika sampai di halaman parkiran langsung saya menuju posko para pemandu, saya langsung bertanya mengenai prosedur berkunjung ke Kampung Naga tersebut. Dengan ramah mereka mempersilahkan saya untuk langsung masuk ke Kampung tersebut, dan tidak dikenakan biaya masuk dikarenakan menurut mereka Kampung Naga bukanlah tempat wisata melainkan sebuah perkampungan adat yang terbuka bagi masyarakat luar yang ingin mengetahui atau bersosialisasi dengan masyarakat kampung.

Tugu Kujang Pusaka

Tulisan Tugu Kujang Pusaka dalam basa Sunda






Setelah itu saya bertanya kepada amang kelapa,
Saya                  : Mang asli orang dieu? (mang asli orang sini)
Emang Kelapa   : Enya Pak.
Saya                  : Mang naha tiiseun, nuju ka marana? (kok sepi mang, lagi pada ke mana?)
Emang Kelapa   : Rame di handap mah, da Kampung Naga mah itu nu handap sanes di dieu.
                         (Ramai sih  kalau di bawah, Kampung Naga kan di bawah bukan di sini)
Saya                 : Oh sugan teh ieu. (oh saya pikir di sini)
Emang Kelapa  : tuh palih ditu katinggal. (tuh sebelah sana kelihatan)

Ternyata Kampung Naga masih jauh, jaraknya sekitar 100 anak buah tangga ke bawah. Sambil menikmati segarnya Sop Buah saya betanya lagi sama amang.

Saya                : Mang tau mengenai sejarah Kampung ini?
Emang Kelapa  : Oh.. kalau masalah itu mending tanya aja ke orang sana, saya mah gak punya wewenang.

Kampung Naga dilihat dari tempat Emang Kelapa berjualan
Setelah selesai beristirahat, saya dan tim melanjutkan perjalanan untuk menuruni anak tangga menuju Kampung Naga. Kami melewati pesawahan dan juga sungai, di sana mulai nampak berjejer rumah-rumah dengan tipe yang sama dan kami telah memasuki Kampung Naga. Kami mengikuti pedagang cinderamata secara diam-diam (karena gak tau jalan). Lalu tibalah kami di depan sebuah masjid, di sana banyak pengunjung lain yang juga berkumpul. Saya langsung disambut oleh seorang bapak yang bernama Bapak Darmawan.

Langsung saya meminta Pak Darmawan untuk menceritakan mengenai Kampung Naga,  lalu pak Darmawan bercerita.
    "Kampung Naga merupakan Kampung yang berada di bawah tebih dalam bahasa Sunda tebing  
pesawahan yang berdekatan langsung dengan Kampung Naga
merupakan Gawir sehingga disebut Dina Gawir yang disingkat menjadi NaGa. Dan kampung ini masih teguh memegang adat istiadat dan tradisi dari nenek moyang seperti contoh bentuk rumah dari dulu hingga saat ini masih tetap sama".
"Lampu penerangannya masih tetap menggunakan lampu tempel minyak, dengan bahan bakar minyak tanah subsidi. dan Kampung ini dipimpin oleh seorang Kuncen (sebutan untuk kepala suku). Kemudian di sini ada Bumi Ageung yang merupakan rumah peninggalan nenek moyang yang terlarang untuk dimasuki dan difoto karena dikeramatkan, kemudian tempat terlarang lainnya adalah bekas pangsolatan (bekas tempat solat)"
Masjid yang menjadi tempat ibadah warga kampung
"Islam masuk ke Kampung Naga abad ke-14, zaman dahulu belum ada masjid orang dulu solat di atas batu. kemudian ada bekas pangleuitan, kemudian ada hutan larangan dan hutan keramat. Luas Kampung Naga sekitar 1,50 Ha yang dibatasi oleh pagar bambu. Luas perkampungan Naga tidak boleh diperluas atau dipersempit. ada 113 bangunan terdiri dari 110 bangunan yang dihuni oleh masyarakat dan 3 bangunan yang menjadi fasilitas umum yaitu Bale pertemuan, Masjid dan Lumbung Padi. terdapat 330 orang dari 110 kepala keluarga."
"mengenai partisipasi politik masyarakat Kampung Naga sama saja dengan partisi politik masyarakat luar. Pemilihan Umum dilaksanakan secara umum di pelataran parkir. Setiap warga boleh memilih perwakilannya sesuai dengan yang mereka inginkan, Nenek moyang dulu dalam memberikan wejangan kepada anak cucunya yaitu: Amanat, wasiat dan akibat.  Di sini terdapat dua lembaga yaitu formal dan non formal. Non Formal pimpinan tertinggi dipimpin oleh Kuncen yang saat ini dijabat oleh Bapak Ade Solihin, kemudian dibantu oleh lebe adat yang tugasnya mengurusi orang meninggal dan kemudian ada punduh adat yang tugasnya mengayomi masyarakat misalnya untuk kegiatan gotong royong. sedangkan untuk formalnya ada RT, RW dan lain-lain"

Alun-alun warga kampung di depan Bale Pertemuan
Benda penolak bala khas warga Kampung Naga
Model rumah Kampung Naga
informasi detail mengenai kampung ini tidak bisa saya dapatkan banyak, terutama mengenai asal-muasalnya siapa nenek moyangnya dikarenakan pada hari Selasa, Rabu dan Sabtu tabu untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan asal muasal penduduk kampung naga. Kemudian pada hari-hari tersebut juga penduduk tidak diperbolehkan untuk mengadakan syukuran atau perayaan karena dipercaya sebagai hari yang tidak baik. kejadian lainnya misalnya hari raya idul fitri jatuh pada hari Selasa maka penduduk di Kampung ini akan ramai pada hari Kamisnya, walaupun pada hari selasa mereka menunaikan ibadah sholat Ied.
atap rumah Kampung Naga
kemudian Pak Darmawan (45) yang bertugas memandu melanjutkan ceritanya...
"masyarakat di Kampung ini mata pencaharian utamanya adalah bertani, dan boleh bergaul bebas dengan orang luar kampung.  kemudian ada juga tugas ronda malam yang tugasnya untuk menjaga api untuk menghindari kebakaran karena kampung ini aman tidak pernah ada kemalingan. dan rata-rata anak-anak kampung di sini bersekolah sampai SD rata-ratanya"



tipe dapur di dalam rumah, hanya enggunakan (tungku)
"Saat panen di sawah masyarakat sini tidak langsung menjual hasilnya, tapi dihitung dahulu apakah cukup sampai 6 bulan ke depan karena panen warga kampung 6 bulan sekali. kemudian untuk sistem waris di Kampung ini, harta peninggalan orang tua diwariskan kepada anak perempuan.




tempat menumbuk padi warga


jubleg (tempat untuk menumbuk padi)


Lisung (tempat menumbuk padi) terbuat dari kayu pohon nangka

kolan di bawah tempat untuk menumbuk padi, sehingga gabah padi bisa langsung dinikmati ikan-ikan








selesai berkeliling Kampung, saya berpamitan dengan Pak Darmawan. Demikian cerita saya mengunjungi Kampung Naga wir.

bersama pak Darmawan, pemandu yang merupakan warga asli Kampung Naga




















 


Senin, 15 September 2014

Curug Orok

Sabtu, 13 September 2014 

       
           Kali ini saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu curug yang berada di Kec. Cikajang Garut. Kedatangan saya ke tempat ini tidak direncanakan sebelumnya karena terjadi secara dadakan ketika waktu maghrib saya check-in lokasi di media sosial Facebook. di situs tersebut menyebutkan bahwa lokasi keberadaan saya yang pada saat itu berada di kecamatan Cisurupan menunjukan bahwa letak menuju "Curug Orok" sekitar 1.7 KM. Hingga terbersitlah ide untuk mengunjungi tempat tersebut, dan pergilah kami Tim Jelajah Dadakan menuju lokasi yang ternyata jarak tempuhnya lebih dari 1.7 KM.

     Kami berangkat dari tempat rekan kami di Cisurupan pukul 7 dan sampai di lokasi 30 menit kemudian. Saat itu belum ada petugas tiket yang jaga, sambil mencari petugas (celingak-celinguk) kami tak dapat mendeteksi keberadaannya. Yang saya lihat saat itu hanya anak-anak kecil di lapangan...., mereka menggunakan baju safari warna coklat, mereka sedang berkumpul ada juga beberapa dari mereka yang berjalan ke luar dari lapangan. Banyak berdiri tempat-tempat seperti terbuat dari kain parasut berwarna hitam. ternyata mereka adalah anak-anak pramuka yang sedang berkegiatan di lapangan tersebut....Lalu kami memarkirkan motor yang kami tumpangi dan langsung menuju lokasi tanpa perasaan bersalah (masih belum bayar tiket).
        Kami turuni tahap demi tahap anak-anak tangga dikarenakan tidak memungkinkan bagi saya untuk langsung loncat menuju ke bawah. Perjalanan dari tempat parkir motor menuju kawasan ini cukup memakan waktu lama , yaitu sekitar 30 menit termasuk sesi foto-foto.


          Terbentanglah air terjun di hadapan saya, hari masih pagi tidak banyak orang di sini. inginku terjun ke dalam air itu tapi rasa takut di dalam diri masih menguasai. menunggu matahari agak mendekati curug barulah saya berani untuk mandi (padahal temen saya baru nyampe, jadi sedikit berani). Kamera tidak mau melepaskan pandangan lensanya untuk mengamati keberadaan kami (saya, teman, dan alam sekitar).





Cerita mengenai Curug Orok



       Konon dikisahkan oleh seorang penjaga tiket yang menghampiri kami karena belum bayar, beliau bercerita bahwasannya dahulu kala Curug Orok bukan Curug Orok. Sebelumnya nama Curug ini adalah Sanghyang Gugur Cahya, namun setelah ada peristiwa pembuangan bayi. Pada saat itu ada bayi yang hilang dan dicari oleh masyarakat, katanya bayi tersebut dimasukan ke dalam karung dan diikat oleh yang mengambil bayi itu (entah ibunya, entah penculik banyak versinya) dan dibuang kecurug itu. setelah itu masyarakat menemukan karung tersebut. Namun anehnya bayi tersebut sudah tidak ada di dalam karung yang utuh tersebut.

Untuk masuk ke tempat ini harga tiket yang harus kita bayar cuma Rp.10.000 aja. ini contoh tiketnya 
Tiket Masuk

 Itulah sekelumit cerita perjalanan saya kali ini di Curug Orok, Garut.



Senin, 08 September 2014

Kafo

Sabato, la 6-an de Septembro 2014

La Premita kafo
Hieraŭ posttagmeze mi ricevis ordon de mia estro por kontroli kaf-ĝardeno kies de la nia kandidat-partnero de la kompanio. Fakte tiam estas mia dua fojo por viziti tiun ĝardenon. Sabato matenege ni iris al Garut urbo al Cikuraj Monto regiono , la etoso jam estis imaĝita en mia kapo kiel. Sed antaŭ ni iris al la loko, oni devas iri al kafejo por gustumi la aĵo de tiu kaf-ĝardeno. La kafejo nomiĝas "Keramat Cafee".

la etoso de la kafejo estas malluksa, estas simpla. la salono situas ĉirkaŭ 36 kvadrataj metroj. Kiam oni alvenis la kafejano oferis nin diversaj teknikfinitaj kafoj, kiuj estas simplaj kaj bezonas specialaj teknikoj.

Proceso de premita kafo
De multaj teknkfinitaj kafoj, kiun interesas mi, estas la kafo kiu estis premita (Pressed Coffe), ĉar mi jam povas imaĝi kia estas la gusto. Unue Pulvoro de kafo enmetis en la premitilo, poste purigi varmega akvon en kafpremitilo kaj poste premi ĝin. La gutoj de la kafo ekeligis kiel oleo de la kafo. sen hezitu mi demandis tiun kafon, ja la gusto estas favorinda. la kaf-aromo estas sentita en mia lango.
 
Post kelkaj tempoj, mi kaj mia teamo ekiris al la regiono de Cikuraj Monto, la vojo estas malfacile trapasis per nia aŭto, pro tio oni decidis por piediri al tiu ĝardeno. kaj nia aŭto revenis al kontraŭa vojo.

la vojo al la ĝarden kafo
La larĝo de la Kafĝardeno estas ĉirkaŭ 1600 akreoj, se mi ne erarus kiel mi aŭdis de la posedanto. La kafo kreskas sub la Pinoj arbaroj. La kialo estas science ke la kaf-arbo nur bezonas 20% de sunlumo. Alia speciala de la kafarbo kiu krekiĝas en ĉi-ĝardeno estas, ghi nur bezonas 16 monatoj ekde la semo ĝis rikoltsezono. Alia tekniko kiun ili faris, ili devas rikoltiĝi la kafon nur 2 horoj ekde rikoltaĵo ĝis verda fazeoloj kaj poste rosti ĝin ĝis nigra kafo. 

la kafarboj sub la pin-arboj
Tiel estas mia vojaĝo foliumis pri......

KAFO.

dankon.


Kopi

Sabtu, 6 September 2014

Pressed Coffee satu sloki
Sore kemarin aku dapat kabar dari atasan untuk mengecek kebun kopi milik calon rekanan mitra kerja perusahaan. sebenarnya ini kali kedua saya akan mengunjungi lahan kopi itu untuk kali kedua. Sabtu pagi sekali kami berangkat menuju Garut untuk ke wilayah Gn. Cikuray sudah tergambar suasana yang akan kami kunjungi, namun sebelum menuju lokasi kami diharuskan mampir dulu ke kafe yang mengolah hasil perkebunan kopi tersebut. Kafe itu namanya "Keramat Cafee".

Suasana kafe terbilang biasa tidak begitu mewah, sederhana saja hanya ruangan berukuran kurang lebih 36 meter persegi. begitu tiba kami disuguhi sajian berbagai macam kopi yang dimasak dan diseduh dengan berbagai teknik. Mulai dari yang sederhana hingga yang memerlukan teknik tertentu.

dari beberapa teknik penyajian, yang membuat saya tertarik adalah teknik pressed, karena saya sudah bisa membayangkan rasa kopi yang dibuat dengan teknik seperti itu. pertama-tama bubuk kopi diletakan di alat pressed tersebut lalu dimasukan air panas dan mulai dipressed. Lalu meneteslah sari kopi tersebut seperti tetesan minyak kopi yang diperas. Lalu saya langsung minta kopi tersebut, memang rasanya nikmat. aroma kopinya begitu terasa dimulut saya.

Proses pembuatan pressed coffee
Selang beberapa lama saya dan tim langsung berangkat menuju kawasan Gn. Cikuray, medannya lumayan sulit dilalui untuk mobil biasa sehingga kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju lokasi dan mobil yang kami naiki balik arah.

medan jalan menuju lokasi hanya cukup untuk satu mobil dan bagian tengah jalan rumput dan batu yang tinggi
Luas lahan kopi tersebut kurang lebih 1600 Ha kalau saya tidak salah dengar dari pemiliknya. kopi tersebut tumbuh di bawah naungan pohon-pohon Pinus yang berdiri tegak. Hal tersebut dikarenakan menurut pendapat ilmiah bahwa kopi hanya membutuhkan 20% cahaya matahari. Keistimewaan dari kopi yang tumbuh di lahan tersebut menurut sang pemilik bisa panen hanya dalam waktu 16 bulan dari mulai bibit tanam. Teknik lainnya yang khas adalah saat panen, proses panen dilakukan tidak boleh lebih dari dua jam dari mulai pemanenan hingga proses menjadi beras (green bean) hingga akhirnya disangrai menjadi biji kopi hitam.
Pohon-pohon Kopi di bawah pohon-pohon pinus


Itu lah sekilas perjalanan saya menelusuri tentang......

KOPI.