Tiga
tahun terakhir ini saya mulai membaca buku-buku filsafat dan terakhir tahun
kmearin saya juga mengikuti kelas filsafat di Universitas Katolik Parahyangan
Bandung. Ketertarikan saya pada filsafat dimulai semenjak tahun 2011 akhir
ketika saya meminjam buku Novel berjudul “Dunia Sophie”, buku yang ringan
dibaca untuk mempeljari filsafat. Walaupun saya membacanya dengan lambat,
berlanjut pada fase tertarik dengan filsafat sebagai sebuah akar ilmu
pengetahun. Waktu itu saya direkomendasikan oleh guru saya untuk membaca
filsafat komunikasi berkenaan dengan skripsi saya yang berkaitan dengan
kebahasaan. Dari waktu ke waktu ketertarikan saya untuk mempelajari filsafat
semakin besar karena menurut pendapat saya filsafat dapat dijadikan alat untuk
mengukur suatu kebenaran teori atau suatu hal. Karena saya manusia biasa yang
jika membaca hanya memahami dan mengingat 0.001% dari yang say abaca sehingga
timbul keingina untuk membuat semacam tulisan hasil dari apa yang saya baca
dalam rangka memperbesar kemungkinan dalam mengingat, mengamalkan dan berbagi
pengetahuan yang saya dapat.
[mungkin
penting]
Sumber
yang saya berjudul “Pengantar FIlsafat Islam
Konsep, Filsuf dan ajarannya” karangan Dedi Supriyadi M.Ag terbitan
Pustaka Setia Bandung.
[MATERI]
Banyak
orang menganggap ilmu filsafat sebagai ilmu yang berbahaya untuk dipelajari
karena dapat melencengkan akidah agama seseorang dengan alasan orang yang
mempelajari filsafat tersebut akan diperbudak oleh akalnya karena ia ingin
memahami segala hal secara rasional. Karena itu saya hendak memaparkan
bagaimana islam memandang ilmu filsafat.
Sejarahnya
filsafat lahir di Yunani antara tahun 582-496 Sebelum Masehi, tokoh yang
terkenal saat itu adalah Socrates, Plato dan Aristoteles. Kata filsafat sendiri
terdiri dari philos dan Sophia, yang artinya cinta dan kebijaksanaan. Sehingga
dapat diartikan bahwa filsafat adalah ilmu tentang kebijaksanaan. Filsafat merupakan
hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan
sedalam-dalamnya sehingga dapat diketahui hakikat kebenaran akan suatu hal.
Yang menjadi dasar
berfilsafat dalam islam yaitu nash Al-qur’an QS. Al-Baqoroh: 64 :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ
وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ
النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا
بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ
وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ
وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُون(164
Artinya: “sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera
yang berlayar dilaut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah
turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu, DIa hidupkan bumi sesudah
mati (Kering)nya dan Dia terbarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan
pengisaran angina dan awan yang yang dikendalikan antara langit dan bumi;
sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang
memikirkan"
Al-An’am
:97:
وَهُوَ الَّذِىۡ جَعَلَ لَـكُمُ النُّجُوۡمَ لِتَهۡتَدُوۡا بِهَا فِىۡ ظُلُمٰتِ الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِؕ قَدۡ فَصَّلۡنَا الۡاٰيٰتِ لِقَوۡمٍ يَّعۡلَمُوۡنَ ﴿۹۷﴾
Artinya: “ dan Dialah
yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam
kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda
kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui"
الٓـمّٓرٰ,تِلۡكَ اٰيٰتُ الۡكِتٰبِؕ وَالَّذِىۡۤ اُنۡزِلَ اِلَيۡكَ مِنۡ رَّبِّكَ الۡحَـقُّ وَلٰـكِنَّ اَكۡثَرَ النَّاسِ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ ﴿۱﴾
Artinya:
“ Alif laam raa. Ini adalah ayat-ayat al-kitab (Al-Qur’an). Dan kitab yang
diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia
tidak beriman (kepada-Nya)”.
Berlandaskan
ayat-ayat tersebut Allah menyuruh kita sebagai manusia untuk berpikir dan
merenungi berbagai peristiwa alam. Akal memiliki posisi tinggi tidak hanya
dalam pengembangan ilmu pengetahuan saja, namun dalam mengembangkan ajaran islam.masalah
justru timbul ketika akal hanya menjadi tolak ukur kebenaran (rasionalis), dan
membuat orang terkadang membatalkan wahyu Allah. Padahal akal hanya alat untuk
memahami kebenaran saja, dalam islam tetap wahyu tuhan (Allah) merupakan
kebenaran mutlak. Akal harus tunduk pada kebenaran wahyu, alasannya karena terbatasnya
pemahaman manusia untuk dapat memahami segala hal.
Hubungan antara
filsafat Islam dengan Filsafat Yunani adalah bahwa islam mengajarkan untuk
emncari pengetahuan melalui perantara akal sebagai alatnya untuk menggali
pemikiran yang benar dan filsafat yunani juga menjadikan akal sebagai alat
berpikir penggali kebenaran, bedanya dalam islam ada batasan tertentu karena
keterbatasan akal sendiri untuk memahami suatu hal terutama dalam memahami
secara gamblang mengenai sebuah wahyu Ilahi.
-wallahu a'lam-