Kamis, 15 Januari 2015

Islam memandang Filsafat






[opening ga penting]
Tiga tahun terakhir ini saya mulai membaca buku-buku filsafat dan terakhir tahun kmearin saya juga mengikuti kelas filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Ketertarikan saya pada filsafat dimulai semenjak tahun 2011 akhir ketika saya meminjam buku Novel berjudul “Dunia Sophie”, buku yang ringan dibaca untuk mempeljari filsafat. Walaupun saya membacanya dengan lambat, berlanjut pada fase tertarik dengan filsafat sebagai sebuah akar ilmu pengetahun. Waktu itu saya direkomendasikan oleh guru saya untuk membaca filsafat komunikasi berkenaan dengan skripsi saya yang berkaitan dengan kebahasaan. Dari waktu ke waktu ketertarikan saya untuk mempelajari filsafat semakin besar karena menurut pendapat saya filsafat dapat dijadikan alat untuk mengukur suatu kebenaran teori atau suatu hal. Karena saya manusia biasa yang jika membaca hanya memahami dan mengingat 0.001% dari yang say abaca sehingga timbul keingina untuk membuat semacam tulisan hasil dari apa yang saya baca dalam rangka memperbesar kemungkinan dalam mengingat, mengamalkan dan berbagi pengetahuan yang saya dapat.

[mungkin penting]
Sumber yang saya berjudul “Pengantar FIlsafat Islam  Konsep, Filsuf dan ajarannya” karangan Dedi Supriyadi M.Ag terbitan Pustaka Setia Bandung.


[MATERI]
Banyak orang menganggap ilmu filsafat sebagai ilmu yang berbahaya untuk dipelajari karena dapat melencengkan akidah agama seseorang dengan alasan orang yang mempelajari filsafat tersebut akan diperbudak oleh akalnya karena ia ingin memahami segala hal secara rasional. Karena itu saya hendak memaparkan bagaimana islam memandang ilmu filsafat.
Sejarahnya filsafat lahir di Yunani antara tahun 582-496 Sebelum Masehi, tokoh yang terkenal saat itu adalah Socrates, Plato dan Aristoteles. Kata filsafat sendiri terdiri dari philos dan Sophia, yang artinya cinta dan kebijaksanaan. Sehingga dapat diartikan bahwa filsafat adalah ilmu tentang kebijaksanaan. Filsafat merupakan hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya sehingga dapat diketahui hakikat kebenaran akan suatu hal.
Yang menjadi dasar berfilsafat dalam islam yaitu nash Al-qur’an QS. Al-Baqoroh: 64 :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُون(164


Artinya: “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar dilaut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu, DIa hidupkan bumi sesudah mati (Kering)nya dan Dia terbarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angina dan awan yang yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan"

 Al-An’am :97:

 وَهُوَ الَّذِىۡ جَعَلَ لَـكُمُ النُّجُوۡمَ لِتَهۡتَدُوۡا بِهَا فِىۡ ظُلُمٰتِ الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ‌ؕ قَدۡ فَصَّلۡنَا الۡاٰيٰتِ لِقَوۡمٍ يَّعۡلَمُوۡنَ‏ ﴿۹۷﴾
 Artinya: “ dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui"

 
الٓـمّٓرٰ,تِلۡكَ اٰيٰتُ الۡكِتٰبِ‌ؕ وَالَّذِىۡۤ اُنۡزِلَ اِلَيۡكَ مِنۡ رَّبِّكَ الۡحَـقُّ وَلٰـكِنَّ اَكۡثَرَ النَّاسِ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ‏ ﴿۱﴾ 
Artinya: “ Alif laam raa. Ini adalah ayat-ayat al-kitab (Al-Qur’an). Dan kitab yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepada-Nya)”.

Berlandaskan ayat-ayat tersebut Allah menyuruh kita sebagai manusia untuk berpikir dan merenungi berbagai peristiwa alam. Akal memiliki posisi tinggi tidak hanya dalam pengembangan ilmu pengetahuan saja, namun dalam mengembangkan ajaran islam.masalah justru timbul ketika akal hanya menjadi tolak ukur kebenaran (rasionalis), dan membuat orang terkadang membatalkan wahyu Allah. Padahal akal hanya alat untuk memahami kebenaran saja, dalam islam tetap wahyu tuhan (Allah) merupakan kebenaran mutlak. Akal harus tunduk pada kebenaran wahyu, alasannya karena terbatasnya pemahaman manusia untuk dapat memahami segala hal.
Hubungan antara filsafat Islam dengan Filsafat Yunani adalah bahwa islam mengajarkan untuk emncari pengetahuan melalui perantara akal sebagai alatnya untuk menggali pemikiran yang benar dan filsafat yunani juga menjadikan akal sebagai alat berpikir penggali kebenaran, bedanya dalam islam ada batasan tertentu karena keterbatasan akal sendiri untuk memahami suatu hal terutama dalam memahami secara gamblang mengenai sebuah wahyu Ilahi.

-wallahu a'lam-