Sabtu, 13 September 2014
Setelah kurang lebih 4 jam menikmati keindahan Curug Orok, saya kembali melanjutkan perjalanan menuju Tasikmalaya, Jawa Barat, kali ini tujuan saya adalah Kampung Naga. Sebuah perkampungan yang menurut kabar dari orang-orang merupakan kampung adat di daerah Priangan Timur yang masih bertahan sampai saat ini.
![]() |
| Plang di depan tempat para pramuwisata di Kampung Naga |
![]() |
| Pelataran parkir menuju Kampung Naga |
Perjalanan dari Garut menuju lokasi Kampung Naga kira-kira memakan waktu
1 jam 30 menit menggunakan motor. Gini-gini saya bisa naik motor ngebut
walaupun cuma dibonceng hehehe. Ketika sampai di halaman parkiran
langsung saya menuju posko para pemandu, saya langsung bertanya mengenai
prosedur berkunjung ke Kampung Naga tersebut. Dengan ramah mereka
mempersilahkan saya untuk langsung masuk ke Kampung tersebut, dan tidak
dikenakan biaya masuk dikarenakan menurut mereka Kampung Naga bukanlah
tempat wisata melainkan sebuah perkampungan adat yang terbuka bagi
masyarakat luar yang ingin mengetahui atau bersosialisasi dengan
masyarakat kampung.
![]() |
| Tugu Kujang Pusaka |
![]() | |
| Tulisan Tugu Kujang Pusaka dalam basa Sunda |
Setelah itu saya bertanya kepada amang kelapa,
Saya : Mang asli orang dieu? (mang asli orang sini)
Emang Kelapa : Enya Pak.
Saya : Mang naha tiiseun, nuju ka marana? (kok sepi mang, lagi pada ke mana?)
Emang Kelapa : Rame di handap mah, da Kampung Naga mah itu nu handap sanes di dieu.
(Ramai sih kalau di bawah, Kampung Naga kan di bawah bukan di sini)
Saya : Oh sugan teh ieu. (oh saya pikir di sini)
Emang Kelapa : tuh palih ditu katinggal. (tuh sebelah sana kelihatan)
Ternyata Kampung Naga masih jauh, jaraknya sekitar 100 anak buah tangga ke bawah. Sambil menikmati segarnya Sop Buah saya betanya lagi sama amang.
Saya : Mang tau mengenai sejarah Kampung ini?
Emang Kelapa : Oh.. kalau masalah itu mending tanya aja ke orang sana, saya mah gak punya wewenang.
![]() |
| Kampung Naga dilihat dari tempat Emang Kelapa berjualan |
Langsung saya meminta Pak Darmawan untuk menceritakan mengenai Kampung Naga, lalu pak Darmawan bercerita.
"Kampung Naga merupakan Kampung yang berada di bawah tebih dalam bahasa Sunda tebing
![]() |
| pesawahan yang berdekatan langsung dengan Kampung Naga |
merupakan Gawir sehingga disebut Dina Gawir yang disingkat menjadi NaGa. Dan kampung ini masih teguh memegang adat istiadat dan tradisi dari nenek moyang seperti contoh bentuk rumah dari dulu hingga saat ini masih tetap sama".
"Lampu penerangannya masih tetap menggunakan lampu tempel minyak, dengan bahan bakar minyak tanah subsidi. dan Kampung ini dipimpin oleh seorang Kuncen (sebutan untuk kepala suku). Kemudian di sini ada Bumi Ageung yang merupakan rumah peninggalan nenek moyang yang terlarang untuk dimasuki dan difoto karena dikeramatkan, kemudian tempat terlarang lainnya adalah bekas pangsolatan (bekas tempat solat)"
![]() |
| Masjid yang menjadi tempat ibadah warga kampung |
"mengenai partisipasi politik masyarakat Kampung Naga sama saja dengan partisi politik masyarakat luar. Pemilihan Umum dilaksanakan secara umum di pelataran parkir. Setiap warga boleh memilih perwakilannya sesuai dengan yang mereka inginkan, Nenek moyang dulu dalam memberikan wejangan kepada anak cucunya yaitu: Amanat, wasiat dan akibat. Di sini terdapat dua lembaga yaitu formal dan non formal. Non Formal pimpinan tertinggi dipimpin oleh Kuncen yang saat ini dijabat oleh Bapak Ade Solihin, kemudian dibantu oleh lebe adat yang tugasnya mengurusi orang meninggal dan kemudian ada punduh adat yang tugasnya mengayomi masyarakat misalnya untuk kegiatan gotong royong. sedangkan untuk formalnya ada RT, RW dan lain-lain"
![]() |
| Alun-alun warga kampung di depan Bale Pertemuan |
![]() |
| Benda penolak bala khas warga Kampung Naga |
![]() |
| Model rumah Kampung Naga |
"masyarakat di Kampung ini mata pencaharian utamanya adalah bertani, dan boleh bergaul bebas dengan orang luar kampung. kemudian ada juga tugas ronda malam yang tugasnya untuk menjaga api untuk menghindari kebakaran karena kampung ini aman tidak pernah ada kemalingan. dan rata-rata anak-anak kampung di sini bersekolah sampai SD rata-ratanya"
![]() |
| tipe dapur di dalam rumah, hanya enggunakan (tungku) |
![]() |
| tempat menumbuk padi warga |
![]() |
| jubleg (tempat untuk menumbuk padi) |
![]() |
| Lisung (tempat menumbuk padi) terbuat dari kayu pohon nangka |
![]() |
| kolan di bawah tempat untuk menumbuk padi, sehingga gabah padi bisa langsung dinikmati ikan-ikan |
selesai berkeliling Kampung, saya berpamitan dengan Pak Darmawan. Demikian cerita saya mengunjungi Kampung Naga wir.
![]() |
| bersama pak Darmawan, pemandu yang merupakan warga asli Kampung Naga |
























